GENERASI MADRASAH DI TENGAH DERASNYA ARUS TEKNOLOGI ANTARA KECAKAPAN DIGITAL, ADAB, DAN JATI DIRI
"Genggam teknologinya, kuasai ilmunya,
tetapi jangan pernah lepaskan adab dan iman."
Oleh: Agustin Wilujeng, S.Kom.
Ada pemandangan yang kini akrab dalam
kehidupan anak-anak madrasah. Saat menunggu pelajaran dimulai, sebagian peserta
didik sibuk dengan telepon pintarnya. Ada yang membuka media sosial, menonton
video pendek, bermain game, tetapi ada pula yang mencari materi pelajaran atau
menyelesaikan tugas sekolah.
Pemandangan sederhana ini menggambarkan
perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Teknologi bukan lagi sesuatu
yang berada di luar kehidupan mereka, melainkan telah membentuk cara berpikir,
berkomunikasi, belajar, dan memandang dunia.
Kini, informasi dari berbagai penjuru dunia
dapat diakses melalui layar kecil di tangan. Bahkan, kecerdasan buatan (Artificial
Intelligence/AI) dapat membantu menjelaskan materi yang sulit dipahami.
Kemudahan ini patut disyukuri. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah
kecakapan menggunakan teknologi sudah sejalan dengan kedewasaan dalam
memanfaatkannya?
Ketika Kemudahan Menggeser Proses Berpikir
Salah satu tantangan generasi digital adalah
kebiasaan memperoleh sesuatu secara
cepat. Informasi harus tersedia dalam hitungan detik, termasuk jawaban atas
tugas sekolah. Tidak sedikit peserta didik yang langsung mencari jawaban di
internet atau meminta bantuan AI tanpa mencoba memahami persoalannya terlebih
dahulu.
Padahal, belajar bukan sekadar menemukan
jawaban benar. Ada proses memahami, mencoba, melakukan kesalahan, dan
memperbaikinya.
AI dapat menjadi teman belajar yang membantu
membuka wawasan, tetapi bukan pengganti proses berpikir. Peserta didik tetap
perlu membaca, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menggunakan
pertimbangan sendiri. Sebab, jawaban yang tampak meyakinkan belum tentu benar.
Cerdas Digital, Tetap Beradab
Tantangan berikutnya adalah menjaga etika
dalam ruang digital. Media sosial memberi kesempatan untuk berkarya dan
berkomunikasi, tetapi juga dapat menjadi tempat munculnya komentar kasar,
perundungan, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Adab seharusnya tidak berhenti ketika
seseorang meninggalkan ruang kelas. Menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan.
Menghormati orang lain berarti tidak mempermalukan mereka melalui unggahan atau
komentar. Bersikap jujur berarti tidak menyebarkan informasi yang belum jelas
kebenarannya.
Nilai tabayyun, berkata baik, dan menjaga
kehormatan sesama yang diajarkan dalam pendidikan agama justru semakin relevan
di tengah kehidupan digital.
Madrasah Tidak Boleh Tertinggal
Madrasah tidak boleh sekadar menjadi penonton
perkembangan teknologi. Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir
komputasional, mengolah data, memahami AI, dan menghasilkan karya digital.
Namun, kecakapan tersebut harus berjalan bersama kejujuran, tanggung jawab, dan
akhlak mulia.
Dalam pembelajaran Informatika, misalnya,
peserta didik tidak hanya belajar menjalankan program atau mengolah data,
tetapi juga memahami bahwa teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan
masalah dan memberikan manfaat.
Di sinilah kekhasan pendidikan madrasah.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berjalan beriringan dengan
penguatan iman dan akhlak. Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengingatkan bahwa Allah
Swt. mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Keduanya menjadi
fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan.
Menguasai Teknologi, Menjaga Jati Diri
Teknologi akan terus berkembang. Kita tidak
mungkin menghentikan perubahan, tetapi dapat mempersiapkan generasi agar tidak
sekadar mengikuti arus, melainkan mampu menentukan arah.
Kepada anak-anak madrasah, manfaatkan internet
untuk memperluas pengetahuan, gunakan AI untuk membantu belajar, dan jadikan
media sosial sebagai ruang berkarya serta menyebarkan kebaikan.
Kepada para pendidik, mendidik generasi
digital tidak cukup dengan melarang atau membatasi. Kita perlu hadir,
mendampingi, memberikan pemahaman, dan menjadi teladan.
Kita ingin melahirkan generasi yang mampu
menggenggam teknologi tanpa kehilangan adab, menguasai ilmu tanpa kehilangan
iman, serta melangkah menuju masa depan tanpa meninggalkan jati dirinya.
Sebab, keberhasilan sebuah generasi bukan
hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang dikuasainya, tetapi juga dari
seberapa besar manfaat yang dihadirkannya bagi kehidupan.
*Guru Informatika MAN 2 Kota Kediri