GENERASI MADRASAH DI TENGAH DERASNYA ARUS TEKNOLOGI ANTARA KECAKAPAN DIGITAL, ADAB, DAN JATI DIRI

PPID M2KK · 06 November 2026 · 07:38 WIB · 19 Pembaca
GENERASI MADRASAH DI TENGAH DERASNYA ARUS TEKNOLOGI ANTARA KECAKAPAN DIGITAL, ADAB, DAN JATI DIRI

 

 

"Genggam teknologinya, kuasai ilmunya, tetapi jangan pernah lepaskan adab dan iman."

 

Oleh: Agustin Wilujeng, S.Kom.


Ada pemandangan yang kini akrab dalam kehidupan anak-anak madrasah. Saat menunggu pelajaran dimulai, sebagian peserta didik sibuk dengan telepon pintarnya. Ada yang membuka media sosial, menonton video pendek, bermain game, tetapi ada pula yang mencari materi pelajaran atau menyelesaikan tugas sekolah.

Pemandangan sederhana ini menggambarkan perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Teknologi bukan lagi sesuatu yang berada di luar kehidupan mereka, melainkan telah membentuk cara berpikir, berkomunikasi, belajar, dan memandang dunia.

Kini, informasi dari berbagai penjuru dunia dapat diakses melalui layar kecil di tangan. Bahkan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu menjelaskan materi yang sulit dipahami. Kemudahan ini patut disyukuri. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah kecakapan menggunakan teknologi sudah sejalan dengan kedewasaan dalam memanfaatkannya?

Ketika Kemudahan Menggeser Proses Berpikir

Salah satu tantangan generasi digital adalah kebiasaan    memperoleh sesuatu secara cepat. Informasi harus tersedia dalam hitungan detik, termasuk jawaban atas tugas sekolah. Tidak sedikit peserta didik yang langsung mencari jawaban di internet atau meminta bantuan AI tanpa mencoba memahami persoalannya terlebih dahulu.

Padahal, belajar bukan sekadar menemukan jawaban benar. Ada proses memahami, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaikinya.

AI dapat menjadi teman belajar yang membantu membuka wawasan, tetapi bukan pengganti proses berpikir. Peserta didik tetap perlu membaca, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menggunakan pertimbangan sendiri. Sebab, jawaban yang tampak meyakinkan belum tentu benar.

Cerdas Digital, Tetap Beradab

Tantangan berikutnya adalah menjaga etika dalam ruang digital. Media sosial memberi kesempatan untuk berkarya dan berkomunikasi, tetapi juga dapat menjadi tempat munculnya komentar kasar, perundungan, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Adab seharusnya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kelas. Menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan. Menghormati orang lain berarti tidak mempermalukan mereka melalui unggahan atau komentar. Bersikap jujur berarti tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Nilai tabayyun, berkata baik, dan menjaga kehormatan sesama yang diajarkan dalam pendidikan agama justru semakin relevan di tengah kehidupan digital.

Madrasah Tidak Boleh Tertinggal

Madrasah tidak boleh sekadar menjadi penonton perkembangan teknologi. Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir komputasional, mengolah data, memahami AI, dan menghasilkan karya digital. Namun, kecakapan tersebut harus berjalan bersama kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, peserta didik tidak hanya belajar menjalankan program atau mengolah data, tetapi juga memahami bahwa teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan masalah dan memberikan manfaat.

Di sinilah kekhasan pendidikan madrasah. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan iman dan akhlak. Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengingatkan bahwa Allah Swt. mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Keduanya menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan.

Menguasai Teknologi, Menjaga Jati Diri

Teknologi akan terus berkembang. Kita tidak mungkin menghentikan perubahan, tetapi dapat mempersiapkan generasi agar tidak sekadar mengikuti arus, melainkan mampu menentukan arah.

Kepada anak-anak madrasah, manfaatkan internet untuk memperluas pengetahuan, gunakan AI untuk membantu belajar, dan jadikan media sosial sebagai ruang berkarya serta menyebarkan kebaikan.

Kepada para pendidik, mendidik generasi digital tidak cukup dengan melarang atau membatasi. Kita perlu hadir, mendampingi, memberikan pemahaman, dan menjadi teladan.

Kita ingin melahirkan generasi yang mampu menggenggam teknologi tanpa kehilangan adab, menguasai ilmu tanpa kehilangan iman, serta melangkah menuju masa depan tanpa meninggalkan jati dirinya.

Sebab, keberhasilan sebuah generasi bukan hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang dikuasainya, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dihadirkannya bagi kehidupan.


*Guru Informatika MAN 2 Kota Kediri

Link disalin!