MAN 2 KOTA KEDIRI: ISLAMIC, EXCELLENT, CIVILIZED

PPID M2KK · 16 October 2026 · 09:56 WIB
MAN 2 KOTA KEDIRI: ISLAMIC, EXCELLENT, CIVILIZED

Oleh: Marwah, S.Pd*

Sebuah lembaga pendidikan tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah, laboratorium yang lengkap, atau sederet prestasi. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus menjawab pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang hendak dilahirkan?

Pertanyaan tersebut menjadi penting bagi MAN 2 Kota Kediri. Madrasah ini menasbihkan diri sebagai madrasah yang Islamic, Excellent, Civilized. Tiga kata itu bukan sekadar slogan kelembagaan. Di dalamnya terdapat gagasan tentang manusia yang hendak dibentuk: memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, sekaligus kemampuan hidup bersama secara beradab.

Islamic: Agama Yang Menjadi Kesadaran

Ibnu Khaldun memandang pendidikan tidak semata berorientasi pada kehidupan dunia. Pendidikan juga harus mengantarkan manusia kepada tujuan ukhrawi. Gagasan itu berkelindan dengan pemikiran Al Ghazali yang menempatkan kedekatan kepada Allah dan kebahagiaan dunia serta akhirat sebagai tujuan pendidikan.

Karena itu, Islamic di MAN 2 Kota Kediri tidak berhenti pada pengajaran pengetahuan agama. Ia diusahakan menjadi kebiasaan.  Pembiasaan itu meliputi: Wajib solat jama'ah dhuhur dan jama'ah Asyar serta solat jumat, Solat dhuha berjamaah setiap hari senin minggu pertama dan minggu ketiga, Membaca Al Quran sebelum pembelajaran selama 15 menit, tahsinul Quran bagi kelas X setiap Sabtu, program ma'had,  kajian keputrian, serta berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

Yang hendak dibangun sebenarnya bukan sekadar kepatuhan terhadap jadwal. Lebih dalam dari itu adalah kesadaran. Murid diharapkan mampu membawa nilai yang dipelajari ke dalam keputusan sehari hari. Inilah yang saya pahami sebagai mindful learning dalam pendidikan Islam: kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dimensi moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Di titik ini, guru dan tenaga kependidikan memiliki posisi penting. Nilai akan sulit tumbuh jika hanya disampaikan melalui ceramah. Karena itu, saya mendorong kolaborasi seluruh guru dan tenaga kependidikan dengan murid. Ekosistem Islami membutuhkan keteladanan. Pemahaman tanpa contoh tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

Excellent: Ilmu Yang Membuka Cakrawala

Namun pendidikan Islam tidak boleh membuat peserta didik hanya pandai berbicara tentang nilai. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan zaman.

Karena itu, Excellent diterjemahkan melalui berbagai program seperti KIR An Nahl, robotik, olimpiade, serta pembiasaan salam, senyum dan sapa dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan membuka cakrawala murid agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang hanya mengenal dunia dari satu sudut pandang.

Agama tanpa ilmu dapat membuat seseorang kehilangan keluasan dalam membaca kenyataan. Sebaliknya, ilmu tanpa nilai dapat kehilangan arah. Pendidikan madrasah memiliki tugas mempertemukan keduanya.

Capaian akademik dan nonakademik menjadi salah satu gambaran dari proses tersebut. Dalam lima tahun terakhir, menurut data internal madrasah, lebih dari 300 prestasi ditorehkan setiap tahun. Lebih dari 80 persen lulusan juga diterima di berbagai perguruan tinggi dengan beragam pilihan bidang keilmuan. Hingga September 2026, madrasah mencatat lebih dari 200 capaian pada berbagai tingkat, mulai internasional, nasional, provinsi, karisidenan hingga kota.

Dua capaian terbaru dalam OSN, yakni medali perunggu atas nama Achmad Gilang Kustyanto dan Honorable Mention atas nama M. Riza Al Fahri, menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Namun prestasi seharusnya tidak berhenti sebagai angka di papan pengumuman. Prestasi harus menjadi pintu bagi lahirnya rasa ingin tahu, disiplin, ketekunan dan keberanian untuk terus belajar.

Civilized: Ketika Ilmu Dan Iman Menjadi Perilaku

Lalu apa makna Civilized?

Kata ini saya tempatkan sebagai titik temu antara Islamic dan Excellent. Ia mengingatkan kita pada gambaran masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah, sebuah masyarakat yang memberi ruang bagi religiusitas, ilmu, keteraturan sosial dan kehidupan bersama.

Karena itu, Civilized di MAN 2 Kota Kediri bukan sekadar kemampuan menggunakan bahasa yang santun atau menaati tata tertib. Ia merupakan budaya yang dibangun melalui kompetisi sekaligus kolaborasi, religiusitas sekaligus saintifik, prestasi sekaligus kepedulian.

Ekosistem seperti itu tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang, keteladanan yang terlihat setiap hari dan kesadaran yang perlahan menjadi karakter.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan madrasah bukan hanya berapa banyak siswa yang memperoleh medali, tetapi juga bagaimana mereka membawa nilai madrasah setelah meninggalkan gerbangnya. Apakah ilmu membuat mereka rendah hati? Apakah agama membuat mereka bertanggung jawab? Apakah prestasi membuat mereka mampu menghargai orang lain?

Di situlah pendidikan menemukan maknanya. Madrasah tidak hanya menyiapkan anak untuk lulus ujian, tetapi mempersiapkan manusia untuk menjalani kehidupan.

Dan inilah kenapa MAN 2 Kota Kediri Islamic, Excellent, Civilized.


*Kepala MAN 2 Kota Kediri.

Link disalin!