MAN 2 KOTA KEDIRI: ISLAMIC, EXCELLENT, CIVILIZED
Oleh: Marwah, S.Pd*
Sebuah lembaga pendidikan tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah, laboratorium yang lengkap, atau sederet prestasi. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus menjawab pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang hendak dilahirkan?
Pertanyaan
tersebut menjadi penting bagi MAN 2 Kota Kediri. Madrasah ini menasbihkan diri
sebagai madrasah yang Islamic, Excellent, Civilized. Tiga kata itu bukan
sekadar slogan kelembagaan. Di dalamnya terdapat gagasan tentang manusia yang
hendak dibentuk: memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, sekaligus
kemampuan hidup bersama secara beradab.
Islamic:
Agama Yang Menjadi Kesadaran
Ibnu
Khaldun memandang pendidikan tidak semata berorientasi pada kehidupan dunia.
Pendidikan juga harus mengantarkan manusia kepada tujuan ukhrawi. Gagasan itu
berkelindan dengan pemikiran Al Ghazali yang menempatkan kedekatan kepada Allah
dan kebahagiaan dunia serta akhirat sebagai tujuan pendidikan.
Karena itu, Islamic di MAN 2 Kota Kediri tidak berhenti pada pengajaran pengetahuan agama. Ia diusahakan menjadi kebiasaan. Pembiasaan itu meliputi: Wajib solat jama'ah dhuhur dan jama'ah Asyar serta solat jumat, Solat dhuha berjamaah setiap hari senin minggu pertama dan minggu ketiga, Membaca Al Quran sebelum pembelajaran selama 15 menit, tahsinul Quran bagi kelas X setiap Sabtu, program ma'had, kajian keputrian, serta berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Yang
hendak dibangun sebenarnya bukan sekadar kepatuhan terhadap jadwal. Lebih dalam
dari itu adalah kesadaran. Murid diharapkan mampu membawa nilai yang dipelajari
ke dalam keputusan sehari hari. Inilah yang saya pahami sebagai mindful
learning dalam pendidikan Islam: kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki
dimensi moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Di
titik ini, guru dan tenaga kependidikan memiliki posisi penting. Nilai akan
sulit tumbuh jika hanya disampaikan melalui ceramah. Karena itu, saya mendorong
kolaborasi seluruh guru dan tenaga kependidikan dengan murid. Ekosistem Islami
membutuhkan keteladanan. Pemahaman tanpa contoh tidak akan mencapai hasil yang
maksimal.
Excellent:
Ilmu Yang Membuka Cakrawala
Namun
pendidikan Islam tidak boleh membuat peserta didik hanya pandai berbicara
tentang nilai. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan
zaman.
Karena
itu, Excellent diterjemahkan melalui berbagai program seperti KIR An
Nahl, robotik, olimpiade, serta pembiasaan salam, senyum dan sapa dan lain
sebagainya. Ilmu pengetahuan membuka cakrawala murid agar mereka tidak tumbuh
menjadi pribadi yang hanya mengenal dunia dari satu sudut pandang.
Agama
tanpa ilmu dapat membuat seseorang kehilangan keluasan dalam membaca kenyataan.
Sebaliknya, ilmu tanpa nilai dapat kehilangan arah. Pendidikan madrasah
memiliki tugas mempertemukan keduanya.
Capaian
akademik dan nonakademik menjadi salah satu gambaran dari proses tersebut.
Dalam lima tahun terakhir, menurut data internal madrasah, lebih dari 300
prestasi ditorehkan setiap tahun. Lebih dari 80 persen lulusan juga diterima di
berbagai perguruan tinggi dengan beragam pilihan bidang keilmuan. Hingga
September 2026, madrasah mencatat lebih dari 200 capaian pada berbagai tingkat,
mulai internasional, nasional, provinsi, karisidenan hingga kota.
Dua
capaian terbaru dalam OSN, yakni medali perunggu atas nama Achmad Gilang
Kustyanto dan Honorable Mention atas nama M. Riza Al Fahri, menjadi
bagian dari perjalanan tersebut.
Namun
prestasi seharusnya tidak berhenti sebagai angka di papan pengumuman. Prestasi
harus menjadi pintu bagi lahirnya rasa ingin tahu, disiplin, ketekunan dan
keberanian untuk terus belajar.
Civilized:
Ketika Ilmu Dan Iman Menjadi Perilaku
Lalu
apa makna Civilized?
Kata
ini saya tempatkan sebagai titik temu antara Islamic dan Excellent.
Ia mengingatkan kita pada gambaran masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah,
sebuah masyarakat yang memberi ruang bagi religiusitas, ilmu, keteraturan
sosial dan kehidupan bersama.
Karena
itu, Civilized di MAN 2 Kota Kediri bukan sekadar kemampuan menggunakan
bahasa yang santun atau menaati tata tertib. Ia merupakan budaya yang dibangun
melalui kompetisi sekaligus kolaborasi, religiusitas sekaligus saintifik,
prestasi sekaligus kepedulian.
Ekosistem
seperti itu tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan
berulang, keteladanan yang terlihat setiap hari dan kesadaran yang perlahan
menjadi karakter.
Pada
akhirnya, ukuran keberhasilan madrasah bukan hanya berapa banyak siswa yang
memperoleh medali, tetapi juga bagaimana mereka membawa nilai madrasah setelah
meninggalkan gerbangnya. Apakah ilmu membuat mereka rendah hati? Apakah agama
membuat mereka bertanggung jawab? Apakah prestasi membuat mereka mampu
menghargai orang lain?
Di
situlah pendidikan menemukan maknanya. Madrasah tidak hanya menyiapkan anak
untuk lulus ujian, tetapi mempersiapkan manusia untuk menjalani kehidupan.
Dan inilah kenapa MAN 2 Kota Kediri Islamic, Excellent, Civilized.
*Kepala MAN 2 Kota Kediri.