MASA DEPAN BANGSA SEDANG DISIAPKAN OLEH PEMUDA.
Oleh: M. Afin Masrija*
Dalam setiap
pembinaan akademik, penulis kerap menyampaikan satu pesan kepada muridnya:
sehebat apa pun guru, orang tua, pejabat, atau tokoh yang mereka kagumi, selalu
ada peluang bagi mereka untuk melampaui pencapaian para pendahulunya. Pesan ini
bukan ajakan meremehkan generasi sebelumnya. Sebaliknya, ia merupakan pengakuan
bahwa setiap generasi memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekaligus
memperbaiki apa yang telah diwariskan kepadanya.
Ada satu modal
yang tidak lagi dimiliki generasi tua dalam jumlah yang sama dengan anak muda,
yakni waktu. Para pendahulu telah menempuh perjalanan panjang, sedangkan para
pemuda masih memiliki ruang untuk mencoba, gagal, belajar, dan menemukan
kemungkinan baru. Akan tetapi, waktu tidak otomatis melahirkan keunggulan. Ia
hanya menjadi kesempatan bagi mereka yang bersedia menggunakannya dengan
sungguh sungguh.
Sebagai guru,
penulis menyadari bahwa berdiri di depan kelas tidak berarti memiliki masa
depan murid. Guru hanya mendampingi sebagian perjalanan mereka. Kelak, para
murid akan memasuki dunia yang mungkin tidak sepenuhnya dipahami oleh gurunya
sendiri. Mereka akan menghadapi persoalan baru, menggunakan perangkat yang
terus berkembang, dan mengambil keputusan yang dampaknya melampaui ruang kelas.
Barangkali
keberhasilan seorang guru justru terlihat ketika muridnya mampu melakukan
sesuatu yang belum sanggup dilakukan gurunya. Pendidikan menemukan maknanya
bukan ketika murid selamanya bergantung pada pengetahuan pendidik, melainkan
ketika mereka memiliki bekal untuk berjalan lebih jauh.
Idealisme yang
Menemukan Bentuk Baru
Sejarah
Indonesia memperlihatkan bahwa pemuda tidak selalu menunggu keadaan berubah.
Mereka turut mengambil bagian dalam menentukan arah perubahan. Sumpah Pemuda
pada 1928 menandai tumbuhnya kesadaran kebangsaan yang melampaui sekat
kedaerahan. Sementara itu, peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945
memperlihatkan desakan golongan muda agar proklamasi kemerdekaan segera
dilaksanakan.
Kemerdekaan
Indonesia tentu tidak lahir dari satu kelompok saja. Perjuangan panjang
melibatkan banyak tokoh dan golongan. Namun, keberanian pemuda mengambil sikap
pada saat menentukan menunjukkan bahwa usia muda tidak identik dengan
ketidakmatangan. Dalam keadaan tertentu, justru mereka yang belum terlalu
terikat pada kebiasaan lama mampu melihat bahwa perubahan tidak dapat terus
ditunda.
Idealisme
serupa hadir dalam tradisi Islam melalui kisah Ashabul Kahfi. Al Quran dalam
Surah Al Kahfi mengisahkan sekelompok pemuda yang mempertahankan keimanan di
tengah tekanan penguasa zalim. Mereka memilih meninggalkan lingkungan yang
mengancam keyakinannya daripada mengorbankan kepercayaan kepada Allah.
Kisah tersebut
mengandung pelajaran yang melampaui keberanian menghadapi penguasa. Para pemuda
itu menunjukkan bahwa tidak semua kekuatan yang mendominasi kehidupan layak
ditaati. Ada nilai yang harus dipertahankan sekalipun seseorang harus
menghadapi risiko. Keberanian, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan melawan
pihak yang lebih kuat, tetapi juga kesanggupan menentukan sikap berdasarkan
keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Imam Al Ghazali
menempatkan ilmu dan amal sebagai unsur penting dalam kehidupan manusia.
Pemahaman ini relevan bagi generasi muda. Idealisme tidak cukup menjadi
kebanggaan identitas atau rangkaian kata yang terdengar heroik. Ia harus
menjelma menjadi tindakan, pengetahuan, dan tanggung jawab.
Tentu saja,
pemuda masa kini menghadapi keadaan yang berbeda. Mereka tidak selalu
berhadapan dengan penjajah atau penguasa yang memaksa mereka meninggalkan
keyakinan. Tantangannya hadir melalui sesuatu yang lebih dekat dengan
keseharian, bahkan sering kali tidak disadari, yakni algoritma media sosial,
kecerdasan buatan, dan gawai.
Kemerdekaan
Berpikir di Tengah Kemudahan
Teknologi
membuka peluang yang tidak pernah dinikmati generasi sebelumnya dalam skala
serupa. Murid dapat mempelajari bahasa asing, mengembangkan kemampuan
pemrograman, mengakses jurnal, bahkan menghasilkan karya dengan bantuan
kecerdasan buatan. Pengetahuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada apa yang
tersedia di sekolah atau perpustakaan.
Namun,
kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti bertambahnya pemahaman.
Seorang murid dapat menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan dengan bantuan
AI, tetapi kesulitan menjelaskan argumen di dalamnya. Ia dapat mengakses ribuan
informasi, tetapi tidak mampu membedakan fakta dari manipulasi. Ia juga dapat
menghabiskan berjam jam di depan layar tanpa benar benar mengetahui apa yang
telah dipelajarinya.
Di sinilah
persoalannya. Jika dahulu sebagian pemuda harus mempertahankan keyakinan di
tengah tekanan kekuasaan, pemuda sekarang perlu menjaga kemerdekaan berpikir di
tengah arus informasi yang terus memengaruhi perhatian dan penilaian mereka.
Analogi ini
tentu tidak menyamakan algoritma dengan penguasa zalim atau teknologi dengan
penjajahan. Keduanya memiliki sifat dan dampak yang berbeda. Namun, terdapat
satu pelajaran yang dapat dipertemukan: manusia tidak boleh kehilangan
kemampuan menentukan sikap hanya karena berhadapan dengan kekuatan yang lebih
besar daripada dirinya.
Karena itu,
menguasai teknologi bukan sekadar mampu mengoperasikan perangkat. Pemuda perlu
memahami cara kerja informasi, memeriksa kebenaran sumber, mengenali bias,
serta mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya. Kecakapan berpikir kritis,
kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan pemecahan masalah
menjadi bekal penting menghadapi perubahan.
Menggunakan AI
untuk memperluas pemahaman berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir
kepadanya. Teknologi semestinya membantu manusia mengembangkan kemampuan, bukan
menggantikan tanggung jawab intelektualnya. Jawaban yang dihasilkan mesin tetap
perlu diperiksa, gagasan yang ditawarkan tetap perlu diuji, dan keputusan akhir
tetap memerlukan pertimbangan manusia.
Tugas
pendidikan pun tidak cukup berhenti pada larangan menggunakan gawai atau
tuntutan menghafal materi. Guru perlu membimbing murid agar mampu
mempertanyakan jawaban, menguji argumen, dan menjelaskan alasan di balik
keputusan mereka. Tujuannya bukan mencetak generasi yang sekadar mahir
menggunakan perangkat, melainkan manusia yang tetap merdeka ketika
menggunakannya.
Memercayai
Generasi yang Sedang Bertumbuh
Indonesia Emas
2045 tidak akan terwujud hanya melalui slogan dan optimisme. Masa depan
tersebut bergantung pada kualitas manusia yang sedang tumbuh hari ini,
kesempatan belajar yang mereka peroleh, serta keberanian mereka mengambil
tanggung jawab. Bangsa ini tidak cukup memiliki pemuda yang cepat beradaptasi
dengan teknologi. Ia membutuhkan generasi yang mampu menilai apakah kemajuan
yang mereka hasilkan benar benar membawa manfaat bagi masyarakat.
Ada ungkapan
pendidikan yang populer, yang kerap dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib,
tentang pentingnya mendidik anak sesuai dengan zamannya. Terlepas dari
persoalan atribusi sumbernya, gagasan tersebut mengingatkan bahwa pemuda tidak
seharusnya dipaksa menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan
nilai yang kokoh sekaligus ruang untuk menemukan cara baru menghadapi
persoalan.
Memercayai
pemuda bukan berarti membenarkan setiap pilihan mereka. Kepercayaan harus
disertai pendampingan, keteladanan, dan kesempatan belajar dari kesalahan.
Orang dewasa perlu memberikan arah tanpa mengambil alih seluruh perjalanan.
Sebab, generasi muda tidak akan tumbuh menjadi penentu masa depan jika setiap
keputusan selalu dibuatkan oleh generasi yang lebih tua.
Penulis mungkin
hari ini berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran dan nasihat.
Namun, suatu hari para murid akan berjalan lebih jauh daripada gurunya. Mereka
mungkin menciptakan sesuatu yang belum pernah dibayangkan, menyelesaikan
persoalan yang belum ditemukan jawabannya, atau memperbaiki kekeliruan yang
selama ini dianggap wajar.
Karena itu,
menyemai kebaikan kepada pemuda bukan sekadar pekerjaan pendidikan. Ia
merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Tugas guru bukan memastikan murid
terus berada di bawah bayang bayangnya, melainkan membekali mereka agar berani
melangkah keluar dari bayangan tersebut tanpa kehilangan arah moral.
Kita tidak
perlu menuntut pemuda menjadi hebat dengan ukuran masa lalu. Yang perlu
dipastikan ialah bahwa mereka memiliki ilmu untuk memahami perubahan, karakter
untuk menjaga prinsip, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihan.
Masa depan
Indonesia tidak menunggu pemuda menjadi dewasa untuk mulai dibentuk. Masa depan
itu sedang tumbuh dalam keputusan yang mereka ambil hari ini, termasuk dalam
cara mereka menggunakan waktu, memperlakukan pengetahuan, dan menjaga
kemerdekaan berpikir. Dari sanalah harapan Indonesia Emas 2045 memperoleh
pijakannya.
*Guru Fikih MAN
2 Kota Kediri