MASA DEPAN BANGSA SEDANG DISIAPKAN OLEH PEMUDA.

PPID M2KK · 30 October 2026 · 11:19 WIB · 15 Pembaca
MASA DEPAN BANGSA SEDANG DISIAPKAN OLEH PEMUDA.


Oleh: M. Afin Masrija*

Dalam setiap pembinaan akademik, penulis kerap menyampaikan satu pesan kepada muridnya: sehebat apa pun guru, orang tua, pejabat, atau tokoh yang mereka kagumi, selalu ada peluang bagi mereka untuk melampaui pencapaian para pendahulunya. Pesan ini bukan ajakan meremehkan generasi sebelumnya. Sebaliknya, ia merupakan pengakuan bahwa setiap generasi memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekaligus memperbaiki apa yang telah diwariskan kepadanya.

Ada satu modal yang tidak lagi dimiliki generasi tua dalam jumlah yang sama dengan anak muda, yakni waktu. Para pendahulu telah menempuh perjalanan panjang, sedangkan para pemuda masih memiliki ruang untuk mencoba, gagal, belajar, dan menemukan kemungkinan baru. Akan tetapi, waktu tidak otomatis melahirkan keunggulan. Ia hanya menjadi kesempatan bagi mereka yang bersedia menggunakannya dengan sungguh sungguh.

Sebagai guru, penulis menyadari bahwa berdiri di depan kelas tidak berarti memiliki masa depan murid. Guru hanya mendampingi sebagian perjalanan mereka. Kelak, para murid akan memasuki dunia yang mungkin tidak sepenuhnya dipahami oleh gurunya sendiri. Mereka akan menghadapi persoalan baru, menggunakan perangkat yang terus berkembang, dan mengambil keputusan yang dampaknya melampaui ruang kelas.

Barangkali keberhasilan seorang guru justru terlihat ketika muridnya mampu melakukan sesuatu yang belum sanggup dilakukan gurunya. Pendidikan menemukan maknanya bukan ketika murid selamanya bergantung pada pengetahuan pendidik, melainkan ketika mereka memiliki bekal untuk berjalan lebih jauh.

Idealisme yang Menemukan Bentuk Baru

Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pemuda tidak selalu menunggu keadaan berubah. Mereka turut mengambil bagian dalam menentukan arah perubahan. Sumpah Pemuda pada 1928 menandai tumbuhnya kesadaran kebangsaan yang melampaui sekat kedaerahan. Sementara itu, peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 memperlihatkan desakan golongan muda agar proklamasi kemerdekaan segera dilaksanakan.

Kemerdekaan Indonesia tentu tidak lahir dari satu kelompok saja. Perjuangan panjang melibatkan banyak tokoh dan golongan. Namun, keberanian pemuda mengambil sikap pada saat menentukan menunjukkan bahwa usia muda tidak identik dengan ketidakmatangan. Dalam keadaan tertentu, justru mereka yang belum terlalu terikat pada kebiasaan lama mampu melihat bahwa perubahan tidak dapat terus ditunda.

Idealisme serupa hadir dalam tradisi Islam melalui kisah Ashabul Kahfi. Al Quran dalam Surah Al Kahfi mengisahkan sekelompok pemuda yang mempertahankan keimanan di tengah tekanan penguasa zalim. Mereka memilih meninggalkan lingkungan yang mengancam keyakinannya daripada mengorbankan kepercayaan kepada Allah.

Kisah tersebut mengandung pelajaran yang melampaui keberanian menghadapi penguasa. Para pemuda itu menunjukkan bahwa tidak semua kekuatan yang mendominasi kehidupan layak ditaati. Ada nilai yang harus dipertahankan sekalipun seseorang harus menghadapi risiko. Keberanian, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan melawan pihak yang lebih kuat, tetapi juga kesanggupan menentukan sikap berdasarkan keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Imam Al Ghazali menempatkan ilmu dan amal sebagai unsur penting dalam kehidupan manusia. Pemahaman ini relevan bagi generasi muda. Idealisme tidak cukup menjadi kebanggaan identitas atau rangkaian kata yang terdengar heroik. Ia harus menjelma menjadi tindakan, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Tentu saja, pemuda masa kini menghadapi keadaan yang berbeda. Mereka tidak selalu berhadapan dengan penjajah atau penguasa yang memaksa mereka meninggalkan keyakinan. Tantangannya hadir melalui sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian, bahkan sering kali tidak disadari, yakni algoritma media sosial, kecerdasan buatan, dan gawai.

Kemerdekaan Berpikir di Tengah Kemudahan

Teknologi membuka peluang yang tidak pernah dinikmati generasi sebelumnya dalam skala serupa. Murid dapat mempelajari bahasa asing, mengembangkan kemampuan pemrograman, mengakses jurnal, bahkan menghasilkan karya dengan bantuan kecerdasan buatan. Pengetahuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada apa yang tersedia di sekolah atau perpustakaan.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti bertambahnya pemahaman. Seorang murid dapat menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan dengan bantuan AI, tetapi kesulitan menjelaskan argumen di dalamnya. Ia dapat mengakses ribuan informasi, tetapi tidak mampu membedakan fakta dari manipulasi. Ia juga dapat menghabiskan berjam jam di depan layar tanpa benar benar mengetahui apa yang telah dipelajarinya.

Di sinilah persoalannya. Jika dahulu sebagian pemuda harus mempertahankan keyakinan di tengah tekanan kekuasaan, pemuda sekarang perlu menjaga kemerdekaan berpikir di tengah arus informasi yang terus memengaruhi perhatian dan penilaian mereka.

Analogi ini tentu tidak menyamakan algoritma dengan penguasa zalim atau teknologi dengan penjajahan. Keduanya memiliki sifat dan dampak yang berbeda. Namun, terdapat satu pelajaran yang dapat dipertemukan: manusia tidak boleh kehilangan kemampuan menentukan sikap hanya karena berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar daripada dirinya.

Karena itu, menguasai teknologi bukan sekadar mampu mengoperasikan perangkat. Pemuda perlu memahami cara kerja informasi, memeriksa kebenaran sumber, mengenali bias, serta mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya. Kecakapan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan pemecahan masalah menjadi bekal penting menghadapi perubahan.

Menggunakan AI untuk memperluas pemahaman berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya. Teknologi semestinya membantu manusia mengembangkan kemampuan, bukan menggantikan tanggung jawab intelektualnya. Jawaban yang dihasilkan mesin tetap perlu diperiksa, gagasan yang ditawarkan tetap perlu diuji, dan keputusan akhir tetap memerlukan pertimbangan manusia.

Tugas pendidikan pun tidak cukup berhenti pada larangan menggunakan gawai atau tuntutan menghafal materi. Guru perlu membimbing murid agar mampu mempertanyakan jawaban, menguji argumen, dan menjelaskan alasan di balik keputusan mereka. Tujuannya bukan mencetak generasi yang sekadar mahir menggunakan perangkat, melainkan manusia yang tetap merdeka ketika menggunakannya.

Memercayai Generasi yang Sedang Bertumbuh

Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya melalui slogan dan optimisme. Masa depan tersebut bergantung pada kualitas manusia yang sedang tumbuh hari ini, kesempatan belajar yang mereka peroleh, serta keberanian mereka mengambil tanggung jawab. Bangsa ini tidak cukup memiliki pemuda yang cepat beradaptasi dengan teknologi. Ia membutuhkan generasi yang mampu menilai apakah kemajuan yang mereka hasilkan benar benar membawa manfaat bagi masyarakat.

Ada ungkapan pendidikan yang populer, yang kerap dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib, tentang pentingnya mendidik anak sesuai dengan zamannya. Terlepas dari persoalan atribusi sumbernya, gagasan tersebut mengingatkan bahwa pemuda tidak seharusnya dipaksa menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan nilai yang kokoh sekaligus ruang untuk menemukan cara baru menghadapi persoalan.

Memercayai pemuda bukan berarti membenarkan setiap pilihan mereka. Kepercayaan harus disertai pendampingan, keteladanan, dan kesempatan belajar dari kesalahan. Orang dewasa perlu memberikan arah tanpa mengambil alih seluruh perjalanan. Sebab, generasi muda tidak akan tumbuh menjadi penentu masa depan jika setiap keputusan selalu dibuatkan oleh generasi yang lebih tua.

Penulis mungkin hari ini berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran dan nasihat. Namun, suatu hari para murid akan berjalan lebih jauh daripada gurunya. Mereka mungkin menciptakan sesuatu yang belum pernah dibayangkan, menyelesaikan persoalan yang belum ditemukan jawabannya, atau memperbaiki kekeliruan yang selama ini dianggap wajar.

Karena itu, menyemai kebaikan kepada pemuda bukan sekadar pekerjaan pendidikan. Ia merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Tugas guru bukan memastikan murid terus berada di bawah bayang bayangnya, melainkan membekali mereka agar berani melangkah keluar dari bayangan tersebut tanpa kehilangan arah moral.

Kita tidak perlu menuntut pemuda menjadi hebat dengan ukuran masa lalu. Yang perlu dipastikan ialah bahwa mereka memiliki ilmu untuk memahami perubahan, karakter untuk menjaga prinsip, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihan.

Masa depan Indonesia tidak menunggu pemuda menjadi dewasa untuk mulai dibentuk. Masa depan itu sedang tumbuh dalam keputusan yang mereka ambil hari ini, termasuk dalam cara mereka menggunakan waktu, memperlakukan pengetahuan, dan menjaga kemerdekaan berpikir. Dari sanalah harapan Indonesia Emas 2045 memperoleh pijakannya.

 

*Guru Fikih MAN 2 Kota Kediri

Link disalin!